Sesungguhnya orang-orang kafir, hati mereka telah diliputi oleh kekotoran disebabkan kekufuran mereka maka mereka tidak mahu menerima kebenaran. Firman Allah تَعَالَى:

“Sesungguhnya orang-orang kafir (yang tidak akan beriman), sama sahaja kepada mereka: sama ada engkau beri amaran kepadanya atau engkau tidak beri amaran, mereka tidak akan beriman. ۞ (Dengan sebab keingkaran mereka), Allah mematerikan atas hati mereka serta pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutupnya; dan bagi mereka pula disediakan azab seksa yang amat besar.”

(QS: Al-Baqarah, 2 : 6-7)

Dan firman Allah سُبحَانَهُ:

“Dan perumpamaan orang-orang kafir (yang tidak mahu beriman itu), adalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari mendengar suara panggilan sahaja; mereka itu ialah orang-orang yang pekak, bisu dan buta; oleh sebab itu mereka tidak dapat menggunakan akalnya.”

(QS: Al-Baqarah, 2 : 171)

Imam Ibn Kathir r berkata:

“Dan perumpamaan orang-orang kafir..”

Iaitu dalam penyimpangan daripada kebenaran, kesesatan dan kejahilan adalah seperti binatang melata yang digembalakan yang mana ia tidak faham apa yang diperkatakan kepadanya. Bahkan apabila penggembalanya memanggilnya kepada apa yang dapat membimbingnya, ia tidak mengerti apa yang diperkatakan dan tidak memahaminya. Hanyalah ia mendengar suaranya sahaja.”

(Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, j. 1, h. 480)

Syaikh al-Islam r berkata:

“Dan firman Allah تَعَالَى:

“Dan di antara mereka ada yang mendengarkanmu (membaca Al-Quran), pada hal Kami telah jadikan tutupan berlapis-lapis atas hati mereka, yang menghalang mereka daripada memahaminya, dan Kami jadikan pada telinga mereka penyumbat; dan kalaupun mereka melihat tiap-tiap keterangan, mereka tidak juga akan beriman kepada keterangan itu; sehingga apabila mereka datang kepadamu, sambil membantahmu, berkatalah orang- orang yang kafir itu: ‘Ini tidak lain hanyalah cerita- cerita dongeng orang-orang dahulu’.”

Maka Allah mengkhabarkan bahawa mereka tidak memahami dengan hati-hati mereka, tidak mendengar dengan telinga-telinga mereka dan tidak beriman dengan api yang mereka lihat sebagaimana yang Allah khabarkan tentang ucapan mereka:

“Dan mereka berkata: ‘Hati kami dalam tutupan yang berlapis-lapis (menghalang kami) daripada memahami apa yang engkau serukan kami kepadanya, dan pada telinga kami penyumbat (menjadikan kami tidak dapat mendengarnya), serta di antara kami denganmu ada sekatan (yang memisahkan fahaman kita)’.”

Maka mereka menyebutkan penghalang-penghalang bagi hati sementara pendengaran, penglihatan dan badan-badan mereka hidup boleh mendengarkan suara dan boleh melihat manusia akan tetapi kehidupan badan tanpa kehidupan hati ibarat kehidupan binatang ternakan yang memiliki pendengaran dan penglihatan. Ia juga makan, minum dan berkahwin. Oleh itu Allah تَعَالَى berfirman:

“Dan perumpamaan orang-orang kafir (yang tidak mahu beriman itu), adalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari mendengar suara panggilan sahaja

Maka Allah menyerupakan mereka dengan binatang yang dipanggil oleh penggembalanya dalam keadaan ia tidak mendengar apa-apa melainkan suara penggilan itu sahaja sebagaimana firman Allah di dalam ayat yang lain:

“Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (apa yang engkau sampaikan kepada mereka)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan (bawaan) mereka lebih sesat lagi.”

Dan firman Allah تَعَالَى:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mahu memahami dengannya (ayat- ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mahu melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mahu mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai.”

(Majmu’ al-Fatawa, j. 10, h. 104)

Maka disebabkan parahnya kejahilan orang-orang kafir terhadap kebaikan dakwah para rasul, mereka mengejek dan mempersendakan para rasul. Firman Allah تَعَالَى:

“Dan demi sesungguhnya! Telah diperolok-olok Rasul-rasul sebelummu, lalu orang-orang yang mengejek-ejek di antara mereka ditimpakan (balasan azab) bagi apa yang mereka telah perolok-olokkan itu.”

(QS: Al-An’am, 6 : 10)

Dan firman Allah سُبحَانَهُ:

“Dan tiadalah seseorang Rasul pun yang datang kepada mereka, melainkan mereka mempersenda dan mengejek-ejeknya. (Sebagaimana hati kaum-kaum yang telah lalu dimasuki perasaan mempersendakan Rasul-rasul) demikianlah pula Kami masukkan perasaan yang seperti itu ke dalam hati orang-orang yang berdosa (yang menentangmu). Mereka tidak percaya kepada Al-Quran yang engkau bawa, padahal telahpun berlaku undang-undang membinasakan orang-orang yang telah lalu (yang mendustakan Rasul-rasulnya).”

(QS: Al-Hijr, 15 : 11-13)

Dan firman Allah تَعَالَى:

“Demikianlah (keadaan tiap-tiap kaum terhadap Rasulnya samalah seperti keadaan kaummu wahai Muhammad) – tidak ada seorang Rasul pun yang datang kepada kaum-kaum yang terdahulu dari mereka, melainkan ada yang berkata: ‘Dia adalah seorang ahli sihir, atau seorang gila.’ ۞ Adakah mereka semua telah berpesan-pesan (dan mencapai kata sepakat) untuk melemparkan tuduhan itu ? (Sudah tentu mereka tidak dapat berbuat demikian), bahkan mereka semuanya adalah kaum yang melampaui batas (dalam keingkarannya).”

(QS: Al-Dzariyat, 51 : 52-53)

Maka bukanlah kesalahan itu pada matahari di waktu siang akan tetapi kesalahan itu adalah pada si buta yang tidak melihatnya.

Imam Ibn al-Qayyim r berkata:

“Tidaklah memudaratkan matahari di siang hari tatkala matahari itu terbit, jika cahayanya tidak dapat dilihat oleh orang yang tidak memiliki penglihatan.”

(I’lam al-Muwaqqi’in, j. 2, h. 368)

Al-‘Allamah Mahmud Syukri al-Alusi r berkata:

“Tidak ada yang mengingkari cahaya matahari atau meragui sinar bulan pada malam purnama melainkan orang yang telah dibutakan mata hatinya oleh Allah تَعَالَى, dia kebingungan di dalam kesesatannya.

“Bintang dianggap kecil oleh mata-mata yang melihatnya. Kesalahannya adalah pada mata yang memandangnya kecil, bukan pada sang bintang.”

(Sobb al-‘Adzab ‘Ala Man Sabb al-Ashab, h. 377)